PRINGSEWU | Berawal dari keinginan hati dan miris melihat teman-teman disabilitas yang seringkali dianggap sebelah mata, bahkan sering ditolak lamaran kerjaannya, Asih Wulandari, perempuan kelahiran Kabupaten Tanggamus, tergerak hatinya untuk memfasilitasi pekerjaan untuk kaum difabel.
Asih Wulandari adalah seorang sarjana komputer lulusan STMIK Pringsewu berumur 26 tahun. Bersama sahabatnya Aliyah Mantik, mereka berdua gigih berjuang untuk memfasilitasi pekerjaan untuk kaum difabel yang ada di Pringsewu dengan mendirikan Kedai Kopi Isyarat.
“Ya jadi ini berawal dari keprihatinan karena temen-temen disabilitas sering di tolak waktu ngelamar kerjaan, karena mereka cacat. Jadi ya, kenapa kita ga buat sesuatu yang baru aja buat mereka, dengan menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya saat ditemui di Kedai Kopi Isyarat yang beralamat di Jalur Dua Pringsewu, belakang Dinas Lingkungan Hidup.
Pendirian Kedai Kopi Isyarat Ini juga sebagai salah satu usaha, memasyarakatkan kaum disabilitas. Bahwa disabilitas itu sama, mereka bisa melakukan sesuatu yang orang normal lakukan.
Semenjak dibuka tiga minggu lalu, Kedai Kopi Isyarat sudah mulai didatangi oleh kalangan masyarakat yang normal maupun juga dari kalangan disabilitas.
Meskipun begitu, bekerja sama dengan teman-teman disabilitas mempunyai keunikan tersendiri.
“Kalau kerja sama temen-temen disabilitas itu dibilang untung ya buntung, dibilang buntung ya ada untungnya. Kenapa dibilang ada untungnya, karena kebanyakan dari temen-temen yang belanja kesini ada yang komen murah banget, dan ada juga yang ga mau dikasih uang kembalin, karena mungkin ngerasa iba gitu sama temen-temen disabilitas. Memang awalnya memang rugi, salah ngitung, salah ngembaliin uang, emang prosesnya banyak banget,” beber Asih.
Bahkan, demi mewujudkan Kedai Kopi Isyarat ini bahkan Asih rela memendam keinginan untuk melanjutkan ke jenjang S2. Sempat berusaha mencari donatur dari perusahaan-perusahaan yang ada di Pringsewu, namun tak ada hasil yang didapatkan.
“Awalnya saya sempet nyebar proposal ke perusahaan yang udah ternama di Pringsewu ini, ke pemerintah juga. Tapi cuma janji yang kita terima dari 2018. Jadi uang tabungan saya buat S2, saya mikir kalo saya ambil S2, setahun dua tahun yang akan datang saya masih bisa melanjutkan, tapi dengan mereka, tetapi setahun dua tahun yang akan datang apakah mereka bisa bekerja di perusahaan yang mereka mau. Itu sih salah satu yang jadi alasan saya untuk berani berbuat baik,” lanjutnya.
Kedai Kopi Isyarat dengan konsep keluarga ini, berdiri di tanah milik Ibu Sewurina pemilik RS Kurnia. Selain menyediakan aneka kopi, juga menyediakan makanan ringan dan makanan berat. Untuk harga pun sangat terjangkau, harga minuman dari harga 4-15 ribu. Kemudian untuk harga makanan dari 5-20 ribu.
“Karena kita temanya juga untuk keluarga, anak, ibu, bapak bisa minum semuanya.
Ada es tanpa kopi, ada juga makanan berat, cemilan, minuman kopi daerah, kalau dari pengunjung sih bilang udah lengkap,” tuturnya.
Menu kopi yang ada di Kedai Isyarat semua dipelajari secara otodidak. Dari lihat di YouTube, dan juga setelah di tester selama tiga bulan sebelum buka kedai. Untuk menemui cita rasa hasil racikan kopi sehingga punya ciri khas tersendiri supaya berbeda dengan tempat lain.
Kedepannya, Asih berharap, Kedai Kopi Isyarat yang baru satu-satunya ada di Lampung ini bisa buka cabang di tempat lain, sehingga ada lapangan pekerjaan buat penyandang disabilitas.
“Selain itu kami juga berharap kepada Pemda Pringsewu, agar memberikan ruang dan gerak bagi teman-teman disabilitas.
Karena kami enggak mau mereka cuma memperingati hari-hari disabilitas imtensional tapi gak ada actionnya buat temen-temen disabilitas,” pungkasnya.
Penulis : (*Nga)

1,035 kali dilihat, 24 kali dilihat hari ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here