Pringsewu | Dana Desa (DD) tahap pertama di Pekon Banyuwangi Kecamatan Banyumas Kabupaten Pringsewu tahun anggaran 2017 disoroti warga setempat. Diduga ada mafia anggaran DD pembangunan 2 Unit Gorong-gorong yang melibatkan Kepala Pekon dan Aparatnya.

Kepala Pekon Banyuwangi Turyono juga diduga telah menyalahi aturan karena fisik bangunan tidak sesuai dengan besik tehnik (bestek). Bahkan dalam Rancangan Anggaran Belanja (RAB) kepala pekon juga diduga telah melakukan penggelembungan anggaran (mark-up).

Sumber yang didapat dalam kegiatan dana desa berupa fisik pembangunan gorong-gorong 2 unit yang terdapat di dua lokasi,Dusun 1 RT 02 dengan volume ukuran panjang 5 × 1 Meter dan drainase sepanjang 3 meter, sedangkan di lokasi Dusun 2 RT 07 yang sama ukuran gorong-gorongnya drainase sepanjang 6 meter, dengan nilai global anggaran sejumlah Rp 24.000.000. Namun dana fantastis itu sangat tidak layak karena kualitasnya yang berada di bawah standard yang telah ditentukan,sehingga gorong-gorong yang semestinya dapat bertahan hingga berumur tahunan dan hanya bisa bertahan beberapa bulan saja.

Diungapkan pula secara gamblang oleh salah satu tenaga tukang yang merupakan warga Banyuwangi itu sendiri juga enggan disebutkan namanya,dimana dalam pelaksanaan di lapangan dapat dirincikan semua material yang dipergunakan termasuk upah dari tenaga kerja, dalam hitungan kasarnya,seperti gorong-gorong yang ada di Dusun 1 RT 02 material yang digunakan diantaranya pasir 1 rit dump truk,semen 24 zak, batu belah 1 rit dump truk,besi 12″ 6 batang sedangkan bahan untuk cornya menggunakan sertu,dan untuk upah tenaga tukang dan tenaga kulinya borongan berkisar sejumlah Rp.2.000.000 bisa disimpulkan bahwa pekerjaan pembuatan gorong-gorong 1 unitnya hanya menghabiskan anggaran tidak lebih dari Rp.6.000.000.

“Kalau hitungan saya Kegiatan tersebut dapat saya rincikan hanya menghabiskan dana berkisar tidak lebih 6 juta itupun udah termasuk upahnya,kalaupun itu satu unitnya menghabiskan 12 juta anggaran pekonnya,saya tidak tahu mas”ungkapnya.

Warto selaku Kaur Pembangunan sekaligus TPK saat dikonfirmasi dikediamannya,Jum’at (6/10) terkait kegiatan tersebut agak berbelit-belit serta mengaku banyak lupa dengan alasan tidak memegang RAB,bahwa yang memegang bendahara pekonnya,warto hanya diperintahkan oleh bendahara pekon untuk memesankan saja bahan material dan tenaga kerjanya, selanjutnya dalam pembiayaan atau pembayaran langsung bendahara pekon yang mengeluarkan,berapa besaran anggaran belanja yang dikeluarkan pun untuk pembangunan Gorong-gorong tersebut Kaur Pembangunan tidak tahu hanya bisa mengira-ngira.

“saya gak pegang RAB,yang pegang itu bendahara pekon,karena ada dilaptopnya,saya juga rincian belanja tidak tau,yang tau bendahara karena dia yang bayar, sedangkan urusan tukang itu dibayar harian masing-masing titik habisnya sekitar 4-5 juta”terangnya Warto

Sayangnya Saat dikonfirmasi ditempat kediamannya Jum’at (6/10) Kepala Pekon Banyuwangi Turyono tidak ada ditempat,dikontak melalui via telepon seluler pun tidak dapat tersambung atau tidak aktif.(VJ)

1,237 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here