Gemalampung.com, Pringsewu – Sudah menjadi kewajiban bagi kepala pekon sebagai pimpinan tertinggi ditingkat pekon untuk dapat bijak dalam pengelolaan Dana Desa. Dalam pengelolaannya harus benar-benar tepat sasaran bukan untuk mencari keuntungan pribadi. Dan tak kalah pentingnya adalah persoalan tranparansi dan juga keterlibatan masyarakat pekon dalam pengelolaannya dengan harapan hasil dari pembangunan yang bersumber dari APBN jauh lebih berkualitas sehingga azas manfaatnya bisa lebih lama dinikmati masyarakat. Namun masih ada saja oknum kepala pekon bersama perangkatnya yang berani kucing-kucingan untuk kepentingan dan keuntungan pribadi.

Seperti di pekon Sidodadi kecamatan Pagelaran kabupaten Pringsewu. Salah satu program kegiatan pembangunan yang dilaksanakan pekon tersebut diduga asal jadi. Pekerjaan onderlagh sepanjang 350 meter yang terbagi dalam dua titik dikerjakan secara asal, meskipun pekerjaan tersebut turut memperkejakan masyarakat namun hasilnya patut dipertanyakan. Pengakuan salah satu warga RT.5 dusun 2 Haryono sungguh mengejutkan pasalnya disamping mengungkap bobroknya sistem dan hasil pekerjaan tetapi juga soal upah pekerjaan pembangunan jalan tersebut yang dikerjakan secara bergotong royong tidak diberikan langsung kepada masyarakat yang dipekerjakan.
” Kami warga di RT. 5 diperintah sama pak sekdes untuk bergotong royong, kerjanya sesuai dengan yang diperintahkan pak sekdes, menghampar batu. selesai digiling barulah mengampar pasir, tapi sayangnya batu yang dipakai sepertinya ukuran tidak sesuai karena terlalu besar. ” Keluh haryono.

Baca Juga :  DUGAAN PENYIMPANGAN DD, KEJARI PRINGSEWU PANGGIL KEPALA PEKON SUKARATU

Untuk soal upah kerja mengaku dibayar 3 juta yang kemudian dijadikan dana kas.
“Usai pekerjaan uang upah borongan sebesar 3 juta dijadikan dana kas dusun katanya sih untuk beli kursi,” tanpa menjelaskan lebih rinci.
Disinggung soal ada atau tidaknya hamparannpair seblum pemasangan batu, haryono mengaku tidak ada perintah untuk menghapar pasir jadi batu langsung diauaun begitu saja.
” saya kan bekerja atas dasar perintah dari pak sekdes, seingat saya batu kami susun barulah pasir ditebar,” ulasnya polos.

Dari pantauan awak media ini, tidak berlebihan jika warga mengeluhkan kwalitas pembangunan jalan Onderlag sepanjang Kurang lebih 150 M ini, dan terindikasi pengerjaan tidak mengacu pada Besik teknis (Bestek) sehingga terkesan pengerjaanya asal jadi. Seperti
Material batu belah yang digunakan tidak dipecah terlebih dahulu untuk penyesuaian ukuran, yang seharusnya ukuran batu 5/7 untuk pasangan Onderlag, tetapi dipasang begitu apa adanya saja, begitupun juga agregat halusnya bukan menggunakan Material pasir tapi sejenis tanah kerikil.

Baca Juga :  Dugaan Pelanggaran UU Perbankan BPR Bank Waway Dilaporkan Ke Polda Lampung

Kepala pekon Hariyadi saat dikonfirmasi dikantor pekon kamis (21/9), mengungkapan terkait dengan pembangunan jalan Onderlag terkesan menutupi informasi soal pembangunan onderlagh tersebut. Deengan alasan bahwa pkerjaan sepenuhnya diserahkan kepada sekertaris desa,
” untuk jumlah total meternya ada 350 meter terbagi menjadi 2 titik, tapi soal anggaran saya lupa, yang tau persis itu pak sekdes, karena dia yang saya pasrahi urusan pekerjaan untuk DD,” kilahnya.

saat kepala pekon menanyakan kepada sekedes jawabnya juga tidak ingat berapa anggarannya Karena ada di catatan.

“Saya tidak ingat berapa anggaran pembangunan jalan Onderlag karena sudah saya serahkan sama sekdes dan tim yang sudah dibentuk,persoalan pemasangan batunya akan kami benahi secara maksimal”tukasnya Hariyadi.(VJ)

 1,784 total views,  2 views today

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here