Bandar Lampung | Terlahir pada 7 Juli 1978, pemilik nama asli Dwi Lestari Emilia Takao, S.Sn, MBA, Ph.D, sukses di karena berjuangannya di Negeri Sakura. Saat itu Emilia Takao mengisahkan setahun selesai kuliah di tahun 2000, dia memutuskan untuk belajar dan berjuang di negeri sakura. Bersyukur, penerimaan masyarakat Jepang yang penuh kekeluargaan terhadap orang asing, memicu semangatnya tidak putus asa dalam berjuang. Begitu juga dorongan dan support dari orang Indonesia di perantauan.

Perjalanan yang tidak mudah baginya untuk bisa beradaptasi di negara yang sangat berbeda budaya dan bahasa. Modalnya hanya bahasa Jepang pas-pasan yang pernah dipelajarinya di sebuah lembaga kursus.

Sebab itu, pertama kali yang ia lakukan adalah memperdalam bahasa Jepang di Sakura International Language Teaching College di daerah Yamaguchi Kyushu. Setelah setahun, keingintahuan tentang seluruh daerah dan budaya Jepang membesar hingga akhirnya pada 2003 dia hijrah ke Fukuoka, dimana ia tinggal sampai saat ini.

Dengan bahasa Jepang yang sedikit sudah dikuasai, dia memutuskan berbaur dan bekerja. Dengan begitu kemampuannya menggunakan bahasa Jepang pun terasah. Ini seiring keinginan kuat melanjutkan pendidikan S2. Kurume Univercity di Kota Yamaguchi pun jadi pilihannya untuk mendapatkan gelar PhD.

Namun semua tak mudah karena terbentur biaya yang begitu besar. Sarjana seni itu mesti berupaya keras dulu. Masih teringat pertama kali dia bekerja part time atau arubaito di sebuah Izakaya atau kedai makanan Jepang. Sehari lima jam ia mencari nafkah.

Silih berganti dia coba belajar dan mendapat penghasilan selama masa pembelajaran di Jepang. Berbagai pekerjaan berat ia jalani, dari sales kosmetik sampai bedmake di sebuah hotel wisata di Jepang. Hingga akhirnya ia menjadi asisten cook di restoran Italia.

Ia juga belajar bisnis dan mendalami bahasa Jepang di Human Academy Japanese Language School di Tenjin Fukuoka Kyushu pada 2004. Disinilah ia bertemu warga pribumi yang menjadi pendamping hidupnya dan dikaruniai tiga anak: satu laki-laki, dua perempuan.

Setelah dua tahun berkeluarga dan diam di rumah, Emilia pada 2007 merasa jenuh. Ia begitu iri melihat rutinitas para ibu-ibu muda di Jepang yang sibuk dengan berbagai aktivitas. Hingga ia membuka usaha online makanan Indonesia. ”Ramai sambutannya, bahkan orang Jepang juga ikut pesan,” tuturnya.

Baca Juga :  Seribu Lilin Dinyalakan Guna Do'a Lintas Agama Untuk Korban Trafficking

Beberapa tahun menjalani usaha online makanan jadi ini, pada 2013 dia mencoba bergabung dengan rekannya membuka Restoran Labali yang menyediakan berbagai macam masakan Indonesia di Fokuoka. Dia sendiri yang turun tangan untuk memasak.

“Saya mengenalkan cita rasa masakan Indonesia untuk warga Jepang dan sebagai pelepas kangen warga Indonesia yang kangen masakan negeri tercinta,” ungkapnya.

Ternyata penduduk Jepang suka masakan Indonesia yang bercita rasa pedas. Masakan Lampung pun dia perkenalkan di Restoran Labali. Misalnya makanan khas Melinting yakni gulai balung, pengencangan, ada juga sambal tempoyak,” papar Emilia.

Bicara Ekspor Buah Lampung tempat Kelahirannya

Menurutnya, Lampung terkenal dengan spicy-nya yaitu lada dan buah-buahan. Dia pun ingin bagaimana hasil pertanian Lampung bisa dijadikan bahan ekspor ke pasaran Asia. Untuk itu, Emilia  berencana  mengekspor buah-buahan  dari  Lampung  ke Jepang.

Tak hanya itu sebagai sarjana seni, Emilia tak melupakan kemampuannya menari. Ia kerap menampilkan tarian adat Lampung dan tarian adat di Indonesia untuk ditampilkan di acara atau festival di Jepang. Baik bersama KBRI Jepang maupun dalam even-even lain.

Melihat minat warga Jepang akan masakan Indonesia tebersit dalam pikirannya memperbesar usaha dan lebih mengenalkan masakan Indonesia. Bukan hanya di lingkungan tempat tinggalnya, melainkan ke seluruh penjuru Jepang. Namun tentu semua itu butuh modal besar.

Ia akhirnya sambil mengurus restoran memutuskan untuk kembali bekerja. Tahun 2014 bermodalkan ijazah akademi bahasa yang dia miliki, dia menjadi translator di sebuah perusahaan Jepang yang bergerak di bidang penempatan tenaga kerja asing.

Di tahun itu juga tepatnya 2 Februari 2014, ia mencoba berbisnis dibantu rekannya. Ia membuka usaha masakan Jepang Kazu Ramen di lingkungan perbelanjaan ambasador Jakarta Selatan dan sebuah kafe kecil di bilangan apartemen Kelapa Gading.

Namun karena minimnya pengalaman dan pengetahuan tentang pola sistem pemasaran di Indonesia, bisnisnya hanya bertahan setahun. Tapi kegagalan itu tidak menyurutkan niatnya untuk melangkah dan mencobanya kembali.

Dia kembali ke Jepang dan memutuskan untuk mengambil pendidikan dalam bidang bisnis management di The Institute of Business Research di salah satu fakultas di daerah tempat tinggalnya.

Dengan pertimbangan ingin memperkenalkan aneka masakan Jepang, dia pada 4 April 2016 membuka Restoran Senbonzakura di area Jl. M Kahfi 1 Ciganjur Jakarta Selatan. ”Dengan lahirnya kembali usaha yang saya bangun, mau tak mau saya harus bolak balik Jakarta-Jepang setiap bulannya,’’ paparnya.

Baca Juga :  Diskominfotik selaku Koordinator Seksi Humas dan Publikasi, Peringatan HUT ke-56 Provinsi Lampung Gelar Rakor

Puaskah dia? Memang, Emilia kini dapat membahagiakan kedua orangtuanya. Terutama dalam hal materi. Namun Emilia merasa tujuan sesungguhnya belum terwujud. Satu bulan Restoran Senbonzakura berdiri, ia berusaha mendirikan lembaga pendidikan bahasa (LBH) Jepang yang akhirnya terwujud awal 2015.

Dia ingin membagikan ilmu dan pengalamannya selama di Jepang untuk generasi muda yang memiliki semangat tapi belum meraih kesempatan. Tercatat sudah 200 orang diluluskan. Hingga akhirnya tujuan LBH meluas. Yakni LBH dan keterampilan kerja dengan status PT World Brother Indonesia (WBI).

PT WBI berdiri dengan masa persiapan tiga bulan dan diresmikan pada Rabu, 12 Oktober 2016. ”Saya dan WBI mengajak generasi muda di manapun tetap semangat mewujudkan impiannya. Karena manusia punya banyak kesempatan untuk bisa sukses tanpa memandang lahir dari kota atau bahkan pelosok desa sekalipun,” tegasnya.

Apa yang dilakukan Emilia ini mendapat apresiasi dari Ketua Umum Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait. Menurutnya, langkah WBI sudah mengurangi beban Komnas PA sebagai lembaga independen yang mengurusi anak-anak Indonesia.

“Saya sekalu Ketua Komnas Perlindungan Anak mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi luar biasa Ibu Emilia atas dedikasinya yang peduli kepada anak yatim dan membuka peluang bagi mereka yang kurang mampu untuk terus mendapatkan pendidikan terutama bahasa jepang di PT WBI ini,” ujar Arist dilanjutkan pemberian piagam penghargaan kepada Emilia.

Emilia merasa bangga atas apresiasi Komnas PA. Hal itu ia yakini akan memotivasi dirinya terus berkarya dan membantu sesama. “Saya bangga dan malu. Bangga dalam artian terharu dan malu dalam arti yang saya lakukan belum seberapa,” ungkap Emilia.

Kini Emilia juga sebagai konsultan pengacara untuk semua para pekerja asing yg ada di Jepang tak hanya itu dirinya juga memiliki Perusahaan Travel dan Kosmetik, wanita yang sejak kecil hobby dan cinta seni ini juga berencana mengembangkan usahanya di Surabaya dan Bali dalam waktu dekat. “Ya disela kesibukan saya jika ada waktu juga saya buat event-event untuk memgembangkan budaya dan kesenian tanah air”, tutupnya.**znd

 1,845 total views,  2 views today

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here