PRINGSEWU | Di tahun 2020, kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Pringsewu di mengalami peningkatan dibanding dengan tahun 2019.

Jika di tahun 2019 hanya ada 43 kasus, di tahun 2020 menjadi 57 kasus atau meningkat sekitar 11 persen. Namun demikian semua kasus yang mencuat telah di lakukan pendampingan bahkan sampai proses inkrah di pengadilan.

Hal diungkapkan Purhadi selaku Kadis Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Pringsewu didampingi Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Pringsewu Fauzi dan Sekretaris Siwi Lestari dan Kepala UPTD Perlindungan Anak Asri Dwijayanti, Selasa (26/1/2021).

Purhadi menerangkan, pada penanganan kasus kekerasan anak di bawah umur meliputi pelecehan seksual, persetubuhan, trafiking, penelantaran anak, pencurian dan narkoba.

“Dari kasus tersebut seluruhnya telah di lakukan pendampingan bahkan di proses secara hukum,”jelasnya.

Dia mengakui peran LPA Pringsewu sangat membantu bahkan sangat pro aktif dalam melakukan penanganan dan pendampingan di lapangan.

Baca Juga :  Gubernur Lampung Resmikan Jembatan Gantung Penghubung Antar Desa Dikabupaten Pringsewu

Diantaranya telah membantu menangani 57 kasus kekerasan anak di bawah umur, pelecehan seksual 23 kasus, persetubuhan 21 kasus, penyalahgunaan narkoba 4 kasus, pencurian 3 kasus, penelantaran 2 kasus, perebutan hak asuh 2 kasus dan trafficking 3 kasus.

“Akhir tahun 2020 lalu sudah selesai secara hukum sebanyak 27 kasus, bahkan sudah incrak pengadilan.Namun untuk perebutan hak asuh anak di lakukan pendekatan kekeluargaan, dengan melibatkan pamong setempat,” kata Purhadi.

Menurutnya, bagi pelaku kekerasan yang masih di bawah umur juga tetap di lakukan pendampingan, bahkan saat ditahan tidak di tempatkan di tahanan umum.

Pihaknya mengakui meskipun kasus kekerasan anak meningkat namun kesadaran masyarakat juga tinggi untuk melaporkan ke penegak hukum dan LPA.

“Munculnya kesadaran masyarakat dengan melaporkan peristiwa kekerasan anak di bawah umur merupakan bukti suksesnya kaderisasi perlindungan anak terpadu berbasis anak (PAPBN) di setiap pekon,”imbuhnya.

Sementara Sekretaris LPA Pringsewu Siwi Lestari mewakil Ketua Fauzi menyatakan untuk program 2021 pihaknya akan turun ke pekon-pekon guna mensosialisasikan program LPA dengan harapan angka kekerasan anak di bawah umur bisa menurun.

Baca Juga :  Mensos: Realisasi Program Kesejahteraan Sosial Harus Mampu Adaptasi Inovasi Teknologi

“Kami juga akan membuat jaringan di tingkat pekon dan yang paling penting adalah masyarakat harus berani lapor jika ada kasus kekerasan anak di bawah umur,”pintanya.

Siwi Lestari mengaku selama ini masih banyak kendala yang di temukan di lapangan saat melakukan pendampingan korban dan pelaku, terutama keterbatasan anggaran.

Dikatakan Siwi, faktor utama hingga terjadinya kasus kekerasan terhadap anak termasuk pelecehan seksual utamanya karena masalah gadjet, minuman tuak yang di oplos.

“Hal itu terbukti sering terjadi pelecehan dengan pacarnya dan anak di bawah umur, usai meminum minuman keras termasuk tuak,”tuturnya.

Faktor lain, karena lemahnya perhatian orang tua terhadap anak, bahkan pelaku umumnya adalah orang dekat yang seharusnya menjadi pelindung dan pembimbing ternyata malah jadi pelakunya.

“Di Kabupaten Pringsewu kasus tertinggi pelecehan seksual ada di Kecamatan Sukoharjo, Pagelaran dan Kecamatan Banyumas,” pungkasnya.

Penulis : (Red)

 153 total views,  4 views today

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here