GemalampungNews.com, Pringsewu – Berbicara tentang preatasi olahraga khususnya di Kabupaten pringsewu tentunya tidak lepas peran serta pemerintah yang dalam hal ini adalah Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) kabupaten Pringsewu, serta peran dari pelaku pelaku olahraga. Dalam tingkatan ini tolak ukur keberhasilan dalam pembinaan dalam bidang bidang ini adalah predikat peringkat serta perolehan medali dari kegiatan Pekan Olahraga Propinsi (Porprov), dimana pada event tersebut beberapa cabang olah raga dipertandingkan dalam perebutan medali.

Pada Porprov 2017 lalu dalam event tersebut dipertandingkan 22 cabang olahraga memperebutkan sebanyak 488 medali. KONI Pringsewu dalam event ini mengirimkan kontingennya sebanyak 370 orang dan mengikuti 19 dari 22 cabor yang dipertandingkan. Dengan perolehan medali sebanyak 47 emas 40 Perak dan 59 Perunggu, dari hasil perolehan  medali tersebut alhasil Pringsewu menepati posisi peringkat ke 4 dibawah Kabupaten Lampung Selatan yang menempati posisi ke 3 dan berada diatas Kota Metro yang berada diposisi ke-5, KONI Pringsewu sendiri hanya dalam porprov tersebut hanya mentargetkan 35 emas, dari hasil tersebut dapat dikatakan terbilang sukses dalam event tersebut meskipun menepati peringkat yang sama pada porprov sebelumnya.

Namun sayangnya dibalik kesuksesan KONI Pringsewu mencuat cerita yang cukup miris yang dialami oleh para atlitnya dimana para pejuang olahraga tersebut mengaku diperlakukan tidak selayakya atlit yang berjuang membela nama baik daerah walhasil memupuskan harapan para atlit sepakbola untuk merayakan uporia  kemenangan.

Baca Juga :  Wakil Walikota Metro Hadiri Penutupan Kompetisi Olah Raga Liga Sepak Bola Tahun 2019

Seperti yang diakui oleh Rifan, salah satu atlet bola bundar tersebut mengungkapkan kekecewaanya saat ditemui oleh media ini Senin (26/2)

“ Kami akui dari cabor sepak bola memang kami tidak memperoleh satu pun medali, hal ini bukan tidak beralasan selain tidak adanya persiapan yang matang seperti pemusatan latihan atau training center, saat porprov berlangsung kami sebagai atlet diperlakukan tidak layak, mulai dari penginapan, menu makan hingga fasilitas tanding yang sangat minim, persoalan uang saku bukanlah hal pokok yang menjadi persoalan.“ keluhnya

Soal penginapan misalnya lanjut Ripan tim sepak bola hanya diberi fasilitas penginapan berupa home stay yang tidak layak karena fasilitas tempat tidurnya tidak sesuai dengan jumlah atlet, banyak yang tidak kebagian tempat tidur hingga terpaksa menggunakan alas tidur seadanya. Tak jarang saat bangun tidur harus kerokan karena masuk angin dan badan terasa sangat tidak nyaman dan ketika bertanding kondisi fisik sangat lemah. Hal ini diperparah dengan menu makanan yang tidak selayaknya menu seorang atlet yang membutuhkan kalori besar untuk menunjang fisik yang bugar.

“ Bahkan pernah saat sarapan pagi sebelum pertandingan dimulai, menunya hanya bubur itu pun kondisinya sudah basi, dari pada jadi penyakit, bubur tersebut kami buang, meski sebagian dari kami tetap memakan bubur basi tersebut karena tidak ada pilihan, saat makan siang pun telat, makan siang datang sesaat sebelum pertandingan, ini sangat berpengaruh buruk pada kondisi fisik pemain, kami bertanding saat perut kami baru terisi,” lanjutnya

Baca Juga :  DPRD Kota Metro Merespon Usulan Dari Himpunan Pedagang Kaki Lima Metro

“ Percuma latihan yang kami jalani selama ini, karena saat kompetisi berlangsung tidak diimbangi dengan fasilitas pendukung, buruknya penginapan sehingga kami tidak bisa istirahat dengan nyaman, menu makan serta telatnya jam makan memperburuk kondisi pemain,” sesalnya

Ditempat terpisah Ketua PSSI Pringsewu Edy Mul saat dikonfirmasi wartawan media ini Selasa (27/02) mengatakan bahwa dirinya saat itu sebagai panitia pengawas pertandingan pada porprov 2017, mengenai kondisi pemain saat itu tanggung jawab pelatih dan manager, namun dirinya sempat mendengar persoalan yang dikeluhkan para atlit sepak bola tersebut.

” Setahu saya, untuk penginapan dan konsumsi para atlet itu di tangani langsung oleh KONI artinya KONI lah yang bertanggung jawab mengenai fasilitas yang lain coba tanyakan kepada meneger dan official, saya juga dengar bahwa persoalan ini terjadi juga pada atlet cabor yang lain,” Tukasnya.(Tim)

 965 total views,  2 views today

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here