PRINGSEWU – Pembangunan Jembatan Gantung Garuda Tahap II di Pekon Sukoharjo IV, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Pringsewu, kini memasuki tahap akhir. Hingga Sabtu (7/3/2026), progres pembangunan jembatan tersebut telah mencapai 96 persen dan tinggal menyisakan pekerjaan finishing sebelum dapat dimanfaatkan masyarakat.
Namun lebih dari sekadar proyek infrastruktur, jembatan sepanjang 80 meter dengan lebar 1,2 meter ini menjadi simbol harapan bagi warga yang selama ini harus berjibaku dengan keterisolasian akibat terpisah oleh aliran Sungai Way Sekampung.
Selama bertahun-tahun, masyarakat Pekon Sukoharjo IV harus memutar jauh untuk menjangkau pusat aktivitas di Kecamatan Gadingrejo. Ketika musim hujan tiba dan debit sungai meningkat, akses warga bahkan kerap terputus total.
Pembangunan jembatan tersebut melibatkan 27 personel gabungan, terdiri dari 15 prajurit TNI, 4 relawan Vertical Rescue Indonesia (VRI), serta 8 warga setempat. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga lahir dari semangat gotong royong antara aparat, relawan, dan masyarakat.
Komandan Kodim 0424/Tanggamus Letkol Inf Dwi Djunaidi Mulyono menegaskan bahwa pembangunan jembatan tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran negara di tengah kebutuhan masyarakat.
“Ini bukan sekadar pembangunan fisik. Ini adalah bukti bahwa negara hadir untuk membuka akses, memutus keterisolasian, dan memberi harapan baru bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, jembatan tersebut akan menjadi penghubung vital antara Pekon Sukoharjo IV dan Pekon Jogjakarta, Kecamatan Gadingrejo, yang selama ini dipisahkan oleh Sungai Way Sekampung.
Dengan tersambungnya akses tersebut, mobilitas masyarakat diprediksi meningkat signifikan, mulai dari akses pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga distribusi hasil pertanian.
“Ini bukan hanya soal jembatan. Ini tentang percepatan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Data teknis di lapangan menunjukkan sejumlah pekerjaan utama telah rampung sepenuhnya, di antaranya penggalian lubang anchor, pembuatan garpu dan anchor, serta pemasangan hanger jembatan yang telah mencapai 100 persen.
Sementara beberapa pekerjaan finishing masih berlangsung, seperti pemasangan papan dan ram kawat yang mencapai 80 persen, pemasangan pagar jembatan 80 persen, serta pemasangan plang identitas dan pengecatan yang telah mencapai 85 persen.
Bagi warga, jembatan ini bukan sekadar proyek pembangunan, tetapi jawaban atas persoalan lama yang selama ini mereka rasakan.
Sukardi (45), petani kelapa sawit asal Sukoharjo IV, mengaku selama ini warga kerap terisolasi saat sungai meluap.
“Kalau sungai meluap kami benar-benar terisolasi. Hasil panen harus diangkut memutar jauh. Dengan jembatan ini jarak ke pasar bisa dipangkas hampir setengahnya,” katanya.
Hal senada disampaikan Tono, petani lainnya yang selama ini harus menempuh jalur memutar hanya untuk membawa hasil panen keluar dari desa.
Menurutnya, kehadiran jembatan tersebut akan sangat membantu mobilitas kendaraan roda dua menuju lahan pertanian.
Tokoh masyarakat Rahwoyo juga menilai jembatan tersebut akan berdampak langsung pada akses layanan publik. Ia menyebut waktu tempuh menuju Puskesmas Gadingrejo nantinya bisa dipersingkat menjadi sekitar 30 menit.
Pembangunan jembatan ini juga mendapat perhatian dari pemerintah daerah.
Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas menyampaikan apresiasi kepada TNI melalui Kodim 0424/Tanggamus yang telah membantu percepatan pembangunan infrastruktur di wilayahnya.
“Atas nama pemerintah dan masyarakat Kabupaten Pringsewu, kami mengucapkan terima kasih kepada Kodim 0424/Tanggamus. Jembatan ini diharapkan menjadi penggerak akses pendidikan dan ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmad Mirzani Djausal menilai keterlibatan TNI dalam percepatan pembangunan daerah telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Program serupa sebelumnya telah dilakukan di Kabupaten Tanggamus dan kini berlanjut di Pringsewu, serta direncanakan akan dilaksanakan juga di Lampung Timur.
Jika tidak ada kendala, dalam waktu dekat jembatan yang selama ini hanya menjadi harapan warga akhirnya akan benar-benar berdiri kokoh menghubungkan dua wilayah, sekaligus membuka jalan baru bagi kehidupan masyarakat yang selama ini terkungkung jarak dan alam. (Redaksi)

