Tradisi Rakyat Berubah Arah, Gogoh Iwak Jadi Simbol Protes Jalan Rusak

BERITA TERKINI Daerah LAMPUNG Pringsewu

Pringsewu – Tradisi gogoh iwak atau menangkap ikan yang awalnya identik dengan pesta rakyat dan kegembiraan, kini berubah menjadi simbol protes keras warga Kabupaten Pringsewu. Bukan lagi di sawah atau empang, gogoh iwak justru digelar di tengah jalan rusak parah yang telah lama dibiarkan pemerintah.

Tradisi ini mulai dipopulerkan secara masif pada awal masa pemerintahan Bupati dan Wakil Bupati Pringsewu periode 2025–2030, Riyanto Pamungkas dan Umi Laila, saat peringatan HUT ke-16 Kabupaten Pringsewu.

Kala itu, gogoh iwak digelar meriah di area persawahan Kompleks Pemda dan menuai antusiasme masyarakat.

Namun, seiring waktu, kegiatan tersebut menjelma menjadi agenda rutin warga di berbagai acara. Ironisnya, lokasi gogoh iwak kini bergeser ke tempat yang mencerminkan wajah kelam pembangunan daerah, jalan raya yang hancur dan berubah menjadi kubangan.

Seperti yang terjadi pada Minggu (8/2/2026) pagi, ratusan warga memadati ruas jalan di Pekon Jati Agung, Kecamatan Ambarawa. Jalan yang seharusnya menjadi akses vital penghubung ke Kecamatan Pagelaran itu disulap menjadi arena gogoh iwak dadakan, lengkap dengan lumpur dan genangan air.

Aksi tersebut bukan tanpa alasan. Warga menegaskan, ini adalah bentuk kekecewaan sekaligus sindiran telak kepada Pemerintah Kabupaten Pringsewu dan Pemerintah Provinsi Lampung. Hampir genap 10 tahun, ruas jalan Jati Agung dibiarkan rusak berat tanpa perbaikan berarti.

“Bukan tidak ada tempat, tapi memang sengaja di sini, Supaya pemerintah lihat langsung kondisi jalan kami.” ungkap salah satu warga setempat.

Warga mengaku, usulan perbaikan jalan tak pernah absen diajukan dalam Musrenbang setiap tahun. Namun, hasilnya selalu sama, nihil realisasi. Jalan tetap hancur, aktivitas ekonomi terganggu, dan keselamatan pengguna jalan terus terancam.

Ironinya, di saat keluhan warga tak kunjung direspons, Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu justru kerap disorot publik terkait penggunaan anggaran fantastis untuk belanja daerah yang dinilai tidak bersifat darurat dan tidak menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Kini, gogoh iwak di jalan rusak bukan lagi sekadar hiburan. Ia menjadi pesan keras dari rakyat, ketika aspirasi diabaikan, lumpur dan kubangan pun bisa menjadi panggung perlawanan. (Redaksi)