Tanggamus — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini justru menuai sorotan di Kabupaten Tanggamus. Warga mengeluhkan bau menyengat dan tumpukan sampah dari aktivitas dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Terang yang berlokasi di Desa Sukamara, Kecamatan Bulok.
Berdasarkan pantauan di lapangan, limbah cair tampak menggenang dan menimbulkan bau tidak sedap. Selain itu, sisa makanan terlihat ditumpuk di pinggir jalan raya sebelum diangkut, sehingga mengganggu kenyamanan warga yang melintas dan bermukim di sekitar lokasi.
“Baunya cukup menyengat, apalagi kalau siang hari. Kalau lewat jalan sini rasanya tidak nyaman,” ungkap salah seorang warga.
Kondisi tersebut dinilai ironis, mengingat dapur SPPG merupakan bagian dari program nasional yang menitikberatkan aspek kesehatan dan gizi anak. Warga pun mempertanyakan pengelolaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) serta ketiadaan tempat penampungan sementara sampah yang layak.
Menanggapi keluhan tersebut, pihak pengelola SPPG Gunung Terang memberikan klarifikasi. Mereka menyatakan bahwa pengelolaan IPAL telah dilakukan sesuai tahapan dan prosedur yang ditetapkan.
“IPAL kami sudah mengikuti ketentuan. Memang sempat terjadi limpasan, namun itu kondisi insidental dan sudah kami tangani dengan penyedotan beberapa waktu lalu,” ujar perwakilan pengelola, Jum’at (30/1/26)
Pihak SPPG juga mengklaim telah melaksanakan Sistem Manajemen Lingkungan Hidup (SMLH) dengan melibatkan tiga instansi pemerintah, yakni Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Pekerjaan Umum. Saat ini, proses sertifikasi lingkungan disebut masih berjalan.
Sementara untuk pengelolaan sampah, SPPG menyatakan telah bekerja sama dengan pemerintah desa setempat. Sampah sisa makanan dikemas dalam plastik dan diletakkan di luar area dapur untuk kemudian diangkut setiap hari oleh pihak desa. Biaya pengelolaan sampah pun disebut dibayarkan secara rutin setiap bulan.
Meski demikian, warga menilai praktik tersebut tetap bermasalah karena sampah kerap diletakkan di pinggir jalan sebelum diangkut, sehingga menimbulkan bau dan kesan kumuh. Warga berharap adanya tempat penampungan sementara yang lebih layak agar tidak mengganggu lingkungan sekitar.
Menanggapi hal itu, pihak SPPG menyatakan terbuka terhadap kritik dan masukan.
“Ke depan, masukan dari masyarakat akan kami tindaklanjuti agar pengelolaan limbah dan sampah bisa lebih baik,” kata pengelola.
Persoalan ini menjadi catatan penting bagi pemerintah daerah dan instansi terkait. Program Makan Bergizi Gratis sebagai program strategis nasional dituntut tidak hanya fokus pada distribusi makanan, tetapi juga memastikan standar kebersihan, sanitasi, dan lingkungan dijalankan secara maksimal agar tujuan menciptakan generasi sehat tidak justru meninggalkan masalah baru di tengah masyarakat.

