Pringsewu – Pemerintah Kabupaten Pringsewu mulai tancap gas mendorong industrialisasi berbasis potensi lokal. Salah satu langkah yang kini diseriusi adalah pengembangan MOCAF (Modified Cassava Flour) sebagai produk hilirisasi singkong yang dinilai mampu mengangkat nilai ekonomi petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui Workshop Implementasi MOCAF bertema “Integrasi Kebijakan Pemerintah Kabupaten Pringsewu untuk Membangun Ekosistem Industri MOCAF Berbasis Klaster yang Berkelanjutan” yang digelar pada tahun 2025, Rabu (28/1/2025).
Workshop ini mendapat asistensi langsung dari Prof. Ir. Ahmad Subagio, M.Agr., Ph.D, Guru Besar Universitas Jember sekaligus tenaga ahli pengembangan MOCAF. Kehadirannya diharapkan memperkuat program dari sisi akademik, inovasi teknologi, hingga strategi membangun industri MOCAF yang berdaya saing.
Bupati Pringsewu H. Riyanto Pamungkas menegaskan, singkong merupakan komoditas strategis Lampung yang selama ini masih banyak “terjebak” pada pola lama: dijual mentah dengan nilai tambah minim. Kondisi itu membuat keuntungan terbesar justru lebih banyak dinikmati pihak lain di luar petani.
“Singkong ini punya potensi besar. Tapi kalau terus dijual dalam bentuk bahan mentah, nilai tambahnya kecil. Padahal Pringsewu bisa mengambil peluang dari hilirisasi,” tegas Bupati.
Menurutnya, pengembangan MOCAF bukan hanya soal mengganti tepung terigu, tetapi juga peluang nyata untuk membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM, dan membangun kemandirian ekonomi daerah.
Namun, Bupati mengingatkan industri MOCAF tidak bisa dibangun setengah-setengah atau berjalan sendiri-sendiri. Ia menekankan perlunya integrasi kebijakan lintas sektor, dari hulu hingga hilir.
“Pengembangan industri MOCAF tidak dapat berjalan secara parsial. Harus ada integrasi kebijakan dari peningkatan produktivitas petani, penguatan kelembagaan, dukungan teknologi pengolahan, pembiayaan, standar mutu dan keamanan pangan, sampai perluasan pasar,” ujarnya.
Pemkab Pringsewu menargetkan pendekatan berbasis klaster agar terbentuk ekosistem industri yang saling terhubung, mulai dari petani singkong, unit pengolahan, pelaku usaha, lembaga riset dan pendidikan, perbankan/lembaga keuangan, hingga pasar.
Model ini diyakini mampu meningkatkan efisiensi produksi, menjaga kualitas, memperkuat daya saing, dan pada akhirnya menaikkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui workshop tersebut, Pemkab Pringsewu berharap lahir langkah konkret, di antaranya:
sinkronisasi program perangkat daerah terkait,
penguatan peran petani dan UMKM sebagai pelaku utama klaster MOCAF,
peningkatan kapasitas SDM melalui pendampingan, inovasi, dan alih teknologi,
serta penyusunan roadmap pengembangan MOCAF Pringsewu yang berorientasi pada keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Workshop ini diikuti jajaran perangkat daerah, tenaga ahli, camat, perwakilan BUMD, serta pemangku kepentingan lainnya. Pemkab menegaskan komitmennya untuk terus mendorong industri berbasis potensi lokal sebagai langkah menuju Pringsewu Makmur, sejalan dengan cita-cita Lampung Maju dan Indonesia Emas 2045. (Rilis/Red)

