PRINGSEWU – Pelayanan medis di Rumah Sakit (RS) Surya Asih Pringsewu tengah menjadi sorotan masyarakat. Seorang perawat di Ruang Isolasi nomor 7 diduga melakukan tindakan medis tanpa komunikasi yang memadai, yang mengakibatkan kondisi psikologis pasien terguncang hingga nyaris mengalami penurunan kondisi ( drop ) secara drastis.
Berdasarkan informasi yang dihimpun tim Gema Lampung , kejadian ini bermula saat perawat berinisial W hendak melakukan tindakan rontgen terhadap pasien. Minimnya edukasi dan penjelasan terkait prosedur tersebut dikabarkan membuat pasien mengalami syok berat di ruang tindakan.
Pihak keluarga menyatakan mengecewakannya karena merasa hak pasien untuk mendapatkan informasi yang jelas sebelum tindakan medis tidak terpenuhi. Salah satu anggota keluarga menceritakan kronologi kejadian yang memicu kondisi kritis tersebut.
“Saya tanya sebelum rontgen ini bapak saya perlu bawa oksigen tidak? Eh, malah perawat bilang tidak usah karena nanti ayah saya duduk saja di kursi roda. Padahal pas sudah sampai ruangan rontgen, ayah saya diminta rontgen berdiri dan tidur terlentang. Ayah saya kaget dan syok karena sulit napas. Kondisinya bahkan sempat menurun drastis karena komunikasi yang kurang informatif,” ujar salah satu anggota keluarga pasien kepada media.
Menangapi hal tersebut, Direktur RS Surya Asih, Hetty Simamora , saat dikonfirmasi pada Senin siang membenarkan adanya laporan keluhan tersebut. Ia menyatakan bahwa manajemen rumah sakit telah menerima komplain resmi dan tengah melakukan langkah penelusuran internal.
“Sudah saya konfirmasi dengan pelayanan medis, komplain sudah kami terima dan kami telusuri. Terima kasih,” ujar Hetty melalui pesan elektronik, Senin (2/3/26).
Lebih lanjut, Hetty menegaskan bahwa berdasarkan hasil penelusuran sementara pihak rumah sakit, tindakan yang dilakukan perawat tersebut diklaim sudah sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).
“Sesuai hasil penelusuran kami, perawat sudah melakukan tindakan sesuai SOP. Untuk komplain pasien, tetap kami tindak lanjuti,” tambahnya.
Meski pihak rumah sakit mengklaim telah menjalankan SOP dan memberikan edukasi, terdapat ketidaksesuaian antara instruksi awal perawat (penggunaan kursi roda) dengan tindakan di lapangan (berdiri/terlentang) yang menjadi poin utama persetujuan keluarga.
Hingga berita ini diturunkan, Gema Lampung terus memantau perkembangan kondisi pasien serta langkah-langkah konkret yang akan diambil manajemen RS Surya Asih dalam memediasi keluhan tersebut. Harapannya, evaluasi ini dapat meningkatkan kualitas layanan agar kejadian serupa yang membahayakan kondisi psikologis pasien tidak terulang kembali. (*)

