Pringsewu – Di dalam ruangan, suasana hangat penuh pujian dan paparan capaian. Namun di luar gedung, kenyataan yang dihadapi warga jauh berbeda, jalan rusak, berlubang, dan berubah menjadi kubangan setiap kali hujan turun.
Dalam acara silaturahmi dan buka puasa bersama insan pers, Bupati Pringsewu Riyanto Pamungkas memaparkan berbagai keberhasilan satu tahun kepemimpinannya, termasuk klaim peningkatan kualitas infrastruktur jalan untuk mendukung mobilitas dan pertumbuhan ekonomi.
Acara tersebut turut dihadiri Wakil Bupati Umi Laila, Sekda M. Andi Purwanto, jajaran OPD, serta organisasi pers. Paparan disampaikan dengan optimisme, menggambarkan pembangunan yang disebut terus bergerak maju, Jum’at (20/2/26).
Namun di sejumlah wilayah Pringsewu, kondisi di lapangan justru berbicara sebaliknya. Aspal mengelupas, lubang menganga, dan saat hujan turun, genangan air menutup permukaan jalan hingga menyerupai kolam. Bagi pengendara, ini bukan lagi soal kenyamanan tetapi soal keselamatan.
Keluhan warga terus bermunculan. Perbaikan yang dilakukan dinilai hanya tambal sulam tanpa solusi permanen. Setiap hujan deras turun, lapisan tambalan kembali hancur, dan lubang lama muncul lebih dalam dan lebih berbahaya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik, apakah klaim peningkatan infrastruktur benar-benar nyata, atau hanya indah dalam laporan dan presentasi.
Di sisi lain, pemerintah juga memaparkan program pengembangan ekonomi melalui komoditas Modified Cassava Flour (MOCAF), program magang bagi generasi muda, serta penguatan layanan kesehatan melalui peningkatan fungsi Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda).
Namun bagi masyarakat, persoalan paling mendasar masih belum tersentuh secara maksimal, akses jalan yang layak dan aman. Jalan rusak tidak hanya menghambat aktivitas harian, tetapi juga mengganggu distribusi hasil pertanian, meningkatkan biaya transportasi, dan mempertaruhkan keselamatan setiap pengguna jalan.
Dalam sambutannya, Bupati mengajak insan pers untuk menyampaikan kritik konstruktif dan menjadi mitra pemerintah. Pernyataan ini justru menjadi pengingat penting, kritik publik bukan sekadar pelengkap seremoni, melainkan cermin kondisi nyata yang harus segera ditindaklanjuti.
Ramadhan semestinya menjadi momentum refleksi, bukan hanya ajang memamerkan capaian. Sebab ukuran keberhasilan pembangunan bukanlah apa yang disampaikan di atas podium, melainkan apa yang benar-benar dirasakan masyarakat di jalan, di pasar, dan dalam aktivitas sehari-hari.
Bagi warga Pringsewu, pembangunan belum bisa disebut berhasil selama setiap musim hujan datang, jalan berubah menjadi kubangan, dan keselamatan masih harus dipertaruhkan di atas lubang yang tak kunjung diperbaiki. (Redaksi)

