PRINGSEWU – Di sebuah gang sempit di Pringsewu Barat, realitas keras itu berdiri tanpa perlu disembunyikan. Sebuah rumah petak reyot menjadi saksi bagaimana belasan jiwa dipaksa hidup berhimpitan bukan karena pilihan, tetapi karena tak ada lagi ruang untuk lari dari kemiskinan.
Di rumah itu, Yuliarti Mentari bertahan. Ia tak sendiri. Suami, empat anak, serta keluarga kakak dan adiknya hidup dalam satu atap yang sama. Total belasan orang berbagi segalanya, ruang tidur, dapur, bahkan nasib yang serba kekurangan.
Tak ada penghasilan tetap. Tak ada jaminan hari esok. Semua menggantung pada kerja serabutan yang datang dan pergi tanpa kepastian. Ketika satu terjatuh, yang lain tak mampu menopang karena semua berdiri di tanah yang sama rapuhnya.
Sepuluh hari lalu, Tomas suami Yuliarti sekaligus satu-satunya tulang punggung keluarga tumbang akibat serangan vertigo berat. Sejak itu, sumber penghidupan keluarga praktis lumpuh total.
Dalam kondisi terdesak, Yuliarti melakukan hal paling pahit: mengorbankan satu-satunya harapan yang tersisa. Modal usaha kecil berjualan cireng yang selama ini menjadi penopang hidup, habis tak bersisa, ditukar dengan beras agar dapur tetap mengepul.
“Biasanya anak-anak bantu jualan sepulang sekolah. Sekarang modalnya sudah habis untuk makan,” ucapnya lirih, Rabu (22/4).
Kini, tanpa penghasilan dan tanpa modal, mereka bertahan dari bantuan seadanya, mengandalkan nasi gratis program Jumat Berkah di mushola sekitar. Bantuan yang datang seminggu sekali itu menjadi penyangga hidup yang rapuh untuk hari-hari berikutnya.
Namun ironi tak berhenti di situ.
Ketika bantuan negara seharusnya hadir sebagai jaring pengaman, keluarga ini justru tersandung persoalan administratif. Data kependudukan Yuliarti masih tercatat di Tanjung Karang, jejak masa lalu yang kini berubah menjadi penghalang bantuan.
Pemerintah setempat mengaku telah turun tangan, tetapi aturan berbicara lain.
“Harus pindahkan KTP dan KK dulu ke sini, baru bantuan bisa diproses,” ujar Lurah Pringsewu Barat, Virgus.
Sebuah prosedur yang di atas kertas terlihat sederhana, namun di lapangan menjelma tembok tinggi bagi warga miskin yang bahkan untuk makan hari ini saja masih bergantung pada belas kasih.
Keluarga Yuliarti kini terjebak di titik paling rentan: terlalu miskin untuk bertahan sendiri, tetapi terlalu “tidak sah secara administrasi” untuk segera disentuh negara.
Di dalam rumah yang sesak itu, ancaman lain mengintai. Belasan orang hidup dalam ruang terbatas, sanitasi minim, dan sirkulasi udara yang buruk kombinasi yang bukan hanya menggerus kenyamanan, tetapi juga membahayakan kesehatan, terlebih dengan kondisi Tomas yang masih terbaring sakit.
Sementara itu, anak-anak kehilangan lebih dari sekadar ruang. Mereka kehilangan tempat tumbuh yang layak.
Kisah Yuliarti bukan sekadar potret kemiskinan. Ini adalah cermin buram tentang bagaimana sistem bisa gagal menjangkau mereka yang paling membutuhkan.
Di tengah rumitnya prosedur dan lambannya administrasi, ada satu pertanyaan yang tak bisa ditunda. (Red)

