Keluarga Yuliarti Terjepit Kemiskinan, Respons Wabup Pringsewu Justru Picu Polemik

BERITA TERKINI Daerah LAMPUNG Pringsewu

PRINGSEWU – Kemiskinan tak selalu berwajah gubuk reyot. Di Pringsewu, ironi itu nyata. Sebuah rumah berdinding tembok justru menyimpan cerita getir tentang keluarga yang nyaris tak punya apa-apa untuk bertahan hidup.

Di balik dinding beton itulah, Yuliarti Mentari berjuang menjaga empat anaknya tetap makan. Tak ada penghasilan tetap. Tak ada cadangan. Dan kini, tak ada lagi tulang punggung keluarga.

Suaminya, Tomas, terbaring sakit dan tak lagi mampu bekerja. Kondisinya membuat roda ekonomi keluarga lumpuh total. Dalam situasi itu, Yuliarti praktis berjuang sendirian di tengah tekanan hidup yang kian menghimpit.

Realitas ini menampar anggapan umum bahwa kemiskinan selalu identik dengan rumah tak layak huni. Faktanya, keluarga Yuliarti hidup dalam keterbatasan ekstrem meski tinggal di bangunan permanen.

Namun ironi tak berhenti di situ.
Harapan akan kehadiran negara justru tersandung cara pandang yang dinilai sempit. Bantuan sosial seolah masih diukur dari tampilan fisik rumah, bukan dari kondisi nyata kehidupan penghuninya.

Hal ini mencuat setelah pernyataan Wakil Bupati Pringsewu, Umi Laila, saat dimintai tanggapan terkait kondisi keluarga Yuliarti.

Alih-alih menunjukkan empati terhadap situasi yang dihadapi, respons yang disampaikan justru memicu tanda tanya.

“Itu sudah ditembok, lebih prioritas kalau ini,” tulisnya melalui pesan WhatsApp kepada media ini, Rabu (22/4/2025), sembari membandingkan dengan kondisi rumah warga lain yang berdinding papan dan geribik.

Pernyataan tersebut langsung menuai sorotan. Sebab, pendekatan berbasis “tampilan rumah” dinilai berpotensi mengabaikan fakta kemiskinan yang lebih kompleks seperti kehilangan penghasilan, beban tanggungan, hingga kondisi kesehatan kepala keluarga.

Di sisi lain, kondisi keluarga Yuliarti terus berada di titik rawan. Dengan suami yang sakit dan empat anak yang masih membutuhkan perhatian, kebutuhan dasar seperti makanan menjadi perjuangan harian.

Kisah ini menjadi cermin bahwa kemiskinan tidak bisa disederhanakan hanya dari apa yang tampak di luar. Dinding tembok tidak selalu berarti kehidupan yang kokoh.

Ketika bantuan sosial masih bertumpu pada indikator visual semata, maka bukan tidak mungkin, keluarga seperti Yuliarti akan terus luput dari jangkauan, meski jerit mereka nyata. (*)