Pemkab Tanggamus Dinilai Hanya Pencitraan, Jembatan Gantung Putus di Pugung Tak Kunjung Ditangani

BERITA TERKINI Daerah LAMPUNG Tanggamus

TANGGAMUS – Kekecewaan mendalam dirasakan warga Pekon Banjar Agung Ilir, Kecamatan Pugung, Kabupaten Tanggamus. Hingga memasuki hari ketiga pasca putusnya jembatan gantung, belum ada penanganan serius dari Pemerintah Kabupaten Tanggamus. Kehadiran Pemkab ke lokasi musibah justru dinilai warga sekadar pencitraan tanpa tindakan nyata.

Jembatan gantung yang menjadi akses vital warga itu putus sejak Senin sore (09/02/2026). Namun sampai Kamis (12/02/2026), belum terlihat langkah konkret dari instansi terkait, baik BPBD maupun Dinas PUPR Tanggamus.

Kekecewaan itu disampaikan langsung oleh Deden, Kepala Dusun di wilayah paling terdampak. Ia menyebut, kunjungan Pemkab sehari setelah kejadian tidak memberi dampak apa pun bagi warga.

“Mereka datang, lihat-lihat, tapi sampai hari ini tidak ada tindakan. Warga menilai kehadiran kemarin hanya pencitraan,” tegas Deden.

Menurut Deden, saat kunjungan ke lokasi, pihak BPBD dan PUPR Tanggamus sempat menyatakan kesanggupan melakukan perbaikan darurat. Bahkan, BPBD meminta agar warga segera mengajukan proposal.

“Buatin saja proposalnya, Pak. Asal masuk sore atau besok, bisa langsung kami tangani. Proposal diketahui kadus, kepala pekon, dan camat,” ujar Deden menirukan pernyataan Ashar, pejabat fungsional Penata Penanggulangan Bencana Ahli Muda BPBD Tanggamus.

Namun janji tersebut, kata Deden, kini terasa hanya angin segar belaka. Pasalnya, hingga hari ketiga, tak ada satu pun tindakan di lapangan.

Lebih ironis, warga justru menerima informasi baru dari PUPR bahwa BPBD tidak bisa menangani perbaikan jembatan dengan alasan kejadian tersebut bukan bencana alam, melainkan kecelakaan.

“Kalau dari awal dibilang tidak bisa karena bukan bencana alam, kenapa kemarin memberi harapan? Kronologi sudah kami jelaskan sejak awal,” ujar Deden kecewa.

Kondisi ini membuat penderitaan warga kian parah. Aktivitas masyarakat lumpuh total. Anak-anak sekolah tak bisa melintas, bahkan SDN 2 Banjar Agung Ilir terpaksa meliburkan kegiatan belajar mengajar karena akses jalan terputus.

“Sudah hari keempat, tidak ada empati dari Pemkab. Tidak ada bantuan, tidak ada santunan, bahkan sekadar menjenguk warga pun tidak,” keluhnya.

Deden menegaskan, jika pemerintah memang tidak mampu menangani perbaikan jembatan, warga siap bergerak secara swadaya. Apalagi jembatan tersebut merupakan satu-satunya jalur pintas menuju jalan poros.

“Uang swadaya warga sebenarnya sudah terkumpul belasan juta. Tapi karena BPBD meyakinkan akan menangani, dana itu kami alihkan untuk membantu korban musibah,” jelasnya.

Saat dikonfirmasi, Ashar dari BPBD Tanggamus belum bisa memastikan kapan perbaikan akan dilakukan.

“Kami sudah meninjau lokasi. Proposal sudah masuk, cuma kemarin saya tidak masuk kantor. Hari ini akan kami koordinasikan ke kepala OPD dan dicek proposalnya sudah di meja siapa,” ujarnya singkat.

Diketahui, insiden putusnya jembatan gantung terjadi saat mobil Angkutan Desa (AngDes) yang membawa belasan penumpang melintas. Ketika kendaraan hampir mencapai ujung jembatan, sling bawah penahan sisi kiri tiba-tiba putus, menyebabkan mobil dan penumpang terjun bebas dari ketinggian sekitar 15 meter ke dasar sungai.

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Namun hingga kini, warga masih harus menanggung dampak akibat lambannya respons pemerintah daerah. (Subhan)