TANGGAMUS — Potret miris dunia pendidikan kembali terlihat di Kabupaten Tanggamus. SD Negeri 3 Kanca Marga, yang berada di Gunung Rejo, Kecamatan Cukuh Balak, hingga kini masih bergelut dengan kondisi sarana dan prasarana yang jauh dari kata layak.
Sekolah yang telah berdiri sejak 1987 itu seolah luput dari sentuhan pembangunan. Bangunan sekolah masih menggunakan dinding papan dan tiang kayu yang mulai lapuk, sementara bagian atap menggunakan asbes tanpa dilengkapi plafon.
Kondisi tersebut bukan sekadar persoalan estetika bangunan. Ketika fasilitas pendidikan dibiarkan menua tanpa perbaikan memadai, keselamatan dan kenyamanan siswa serta tenaga pendidik ikut dipertaruhkan.
Lebih memprihatinkan, keterbatasan ruang kelas membuat proses belajar mengajar harus dilakukan dengan cara yang serba terbatas. Dari enam jenjang kelas, hanya tersedia dua ruang kelas.
Kepala SDN 3 Kanca Marga, Latri, S.Pd., mengungkapkan bahwa keterbatasan tersebut memaksa pihak sekolah menggabungkan beberapa jenjang dalam satu ruangan.
“Untuk fasilitas saat ini sudah tidak memadai. Ruang kelas cuma ada dua. Kelas 1, 2 dan 3 kami jadikan satu ruangan, begitu juga kelas 4, 5 dan 6 kami jadikan satu ruangan. Jadi sekolah kami masih sangat kekurangan tempat,” ujar Latri, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pihak sekolah sangat berharap adanya perhatian serius dari pemerintah, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
“Kami sangat berharap betul bantuan pemerintah untuk sekolah kami,” pintanya.
Kondisi SDN 3 Kanca Marga juga menjadi sorotan warga setempat. Seorang warga yang pernah menjadi komite sekolah menyebut, sejak sekolah tersebut berdiri, pembangunan sarana dan prasarana gedung sekolah dinilai belum pernah dilakukan secara berarti.
“Ini bangun sudah sangat lama. Kondisi saat ini dinding papan sudah mulai lapuk. Dikhawatirkan akan keselamatan daripada anak-anak sekolah,” ungkapnya.
Persoalannya kini bukan lagi sekadar soal sekolah yang terlihat tua. Pertanyaan yang patut diajukan adalah sampai kapan anak-anak di wilayah tersebut harus belajar di tengah keterbatasan fasilitas yang telah berlangsung puluhan tahun.
Di tengah gencarnya pemerintah berbicara mengenai pemerataan kualitas pendidikan dan peningkatan sarana prasarana sekolah, kondisi SDN 3 Kanca Marga justru menjadi gambaran bahwa masih ada sekolah di pelosok yang membutuhkan perhatian nyata, bukan sekadar janji pembangunan.
Bangunan yang menua, dinding papan yang mulai lapuk, atap tanpa plafon, serta tiga jenjang yang harus berbagi satu ruang kelas menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk segera turun tangan.
Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak cukup hanya dengan meminta anak-anak untuk rajin belajar. Mereka juga berhak mendapatkan ruang belajar yang aman, layak, dan manusiawi.
Kini bola berada di tangan pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Akankah SDN 3 Kanca Marga akhirnya mendapatkan perhatian, atau kembali dibiarkan menunggu hingga bangunannya benar-benar tak lagi layak digunakan. (Red)

