‎Sapu Bersih Juara Saat Kepsek Jadi Ketua Panitia, Ajang FLS3N Pringsewu 2026 Menuai Protes Massal

BERITA TERKINI Daerah LAMPUNG Pringsewu

PRINGSEWU – Pelaksanaan Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) Tingkat Kabupaten Pringsewu Tahun 2026 yang digelar di SMA Negeri 1 Pringsewu baru-baru ini terkonspirasi tudingan miring. Hasil kompetisi yang menempatkan SMA Negeri 1 Ambarawa sebagai Juara Umum memicu gelombang protes dari siswa dan wali murid sekolah lain di media sosial.

‎Keresahan publik setelah SMA Negeri 1 Ambarawa (Smansamba) diketahui mendominasi hampir seluruh kategori juara pertama, mulai dari Baca Puisi, Cipta Puisi, Monolog, Solo Song, hingga Jurnalistik dan Kriya. Yang menjadi sorotan tajam adalah posisi Ketua Panitia pelaksana sekaligus Ketua MKKS Pringsewu, Jahara Siregar, yang juga menjabat sebagai Kepala Sekolah di SMA Negeri 1 Ambarawa.

‎Kritik keras juga datang dari para pelatih lomba yang menyaksikan langsung kompetisi. Heryanti Pagayo, salah satu pelatih lomba puisi, melalui komentarnya di akun Facebook Heri Suprianto, meluapkan kekecewaannya terhadap mekanisme penjurian yang dianggap tidak objektif.

‎Heryanti menyampaikan pemberian nilai nyaris sempurna kepada pemenang tertentu, sebuah angka yang dianggap sangat janggal dalam kompetisi seni.

‎ “Lomba yang disaksikan para pendamping dan pembina tidak masuk kriteria sebagai pemenang, apalagi sampai juara 1 dan 3, tapi mendapat nilai 99 dari jurinya yang hanya satu orang. Sungguh nilai yang sangat FANTASTIS, SEMPURNA bagi seorang pembaca,” tulis Heryanti.

‎Ia bahkan secara terbuka menduga adanya praktik “juri pesanan” yang sudah diatur untuk memenangkan pihak tertentu. Heryanti menegaskan bahwa pihak sekolah yang dirugikan berani untuk mengadu kembali kualitas penampilan siswa mereka secara terbuka dengan para pemenang.

“Kami berani diadu lagi dengan penampilan mereka. Mau menang tapi gak sportif, tetap menggunakan cara curang,” tegasnya.

‎Berdasarkan pantauan di akun Instagram resmi sekolah Smansamba, kolom komentar dipenuhi kritik pedas mengenai integritas penjurian. Akun-akun seperti @haters_ordal dan @sccdzl secara terbuka mempertanyakan kualitas penampilan pemenang di lapangan yang dianggap tidak sebanding dengan hasil nilai juri.

‎”Liat kondisi di lapangan pung, hasil karya dan performa kalian di berbagai cabang lomba itu kacau, kok bisa bisanya dapet juara 1,” tulis salah satu netizen di kolom komentar. Desakan untuk membuka rekaman CCTV dan transparansi nilai juri pun terus bergulir.

‎‎Menanggapi kegaduhan ini, Kepala Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kacabdin) Wilayah II Provinsi Lampung, Rodi Hayani Samsun, mengakui adanya kejadian “kebocoran” nama-nama juara sebelum pengumuman resmi dilakukan.

“Sudah ditentukan juara dari 1-5, biasa yang begitu-begitu ada yang bocor. Nah bocorlah nama-nama yang bakal juara ini,” ujar Rodi,  Minggu (3/5/2026).

‎Rodi mengatakan, memang ada permintaan untuk memutar ulang pertandingan dari pihak SMA Negeri 1 Pringsewu karena ketidakpuasan tersebut.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa keputusan akhir tetap merupakan hak prerogatif juri yang berasal dari Dewan Kesenian Lampung (DKL) dan Taman Budaya.

‎Hingga berita ini diturunkan, Ketua pelaksana Panitia, Jahara Siregar, belum memberikan tanggapan resmi terkait tudingan konflik kepentingan maupun tuntutan transparansi yang disuarakan oleh para kontestan sekolah lain.

Sikap diam ini semakin memperkuat desakan publik agar pihak yang berwenang melakukan evaluasi menyeluruh demi menjaga marwah kompetisi pendidikan yang jujur ​​dan adil. (*)