Dinas Pertanian Akui Dampak, Produksi Pangan Terancam, Irigasi Masih Tertutup Lumpur Tambang Batu

BERITA TERKINI Daerah LAMPUNG Pringsewu

Pringsewu — Dampak lumpur yang menutup saluran irigasi di Pekon Tambahrejo, Kecamatan Gadingrejo, kini tak lagi sekadar keluhan petani. Dinas Pertanian Kabupaten Pringsewu secara terbuka mengakui bahwa kondisi tersebut sudah mengancam produktivitas lahan dan berpotensi menekan produksi pangan.

Kepala Dinas Pertanian Pringsewu, Maryanto, menyatakan pihaknya menyesalkan kejadian yang menyebabkan lahan pertanian tidak dapat berfungsi optimal.

“Kami menyesalkan terjadinya bencana yang mengakibatkan lahan menjadi tidak produktif, yang secara tidak langsung mempengaruhi produksi pangan berupa beras,” ujarnya, Kamis (30/4/26).

Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa persoalan lumpur di irigasi bukan lagi isu lokal semata, melainkan sudah menyentuh ketahanan pangan daerah.

Saat ini, Dinas Pertanian mengaku tengah mengumpulkan data kerusakan lahan dan berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk mencari solusi. Namun di lapangan, petani masih bergulat dengan kondisi irigasi yang tertutup lumpur, air yang tak mengalir, serta sawah yang mulai kehilangan fungsinya.

Ironisnya, di tengah pengakuan dampak oleh Dinas Pertanian, penanganan konkret belum terlihat signifikan. Sementara itu, aktivitas tambang yang diduga menjadi sumber sedimen masih terus berjalan.

Sebelumnya, Dinas Lingkungan Hidup menyebut lumpur berasal dari limpasan air hujan. Namun fakta di lapangan menunjukkan endapan lumpur telah menutup saluran hingga setinggi lutut, bahkan meluap ke area persawahan.

Kini, dua instansi telah bicara, satu menyebut sebab, satu lagi mengakui dampak. Tapi satu hal masih menggantung, siapa yang benar-benar bertanggung jawab, dan kapan solusi nyata akan dilakukan.

Bagi petani Tambahrejo, waktu terus berjalan. Jika irigasi tak segera dipulihkan, ancaman gagal tanam bukan lagi kemungkinan, melainkan kepastian. (Tim/Red)