Pejabat atau Motivator Kekayaan?

Opini RAGAM

Oleh : Redaksi 

Belakangan ini ada fenomena yang cukup menggelitik dalam gaya sebagian pejabat birokrasi. Setiap kali berbicara, yang muncul pertama bukan gagasan, bukan solusi, bukan capaian kinerja, melainkan daftar identitas diri. PNS, pejabat, pengusaha, CEO. Seolah-olah publik harus lebih dulu dibuat kagum sebelum mendengar isi pembicaraan.

Padahal dalam birokrasi, jabatan sejatinya adalah amanah untuk melayani, bukan panggung untuk memamerkan status sosial. Namun yang terdengar justru parade gelar dan pencapaian pribadi yang dipertontonkan berulang-ulang.

Kata “CEO” bahkan terdengar lebih sering daripada program kerja. Diulang berkali-kali seperti slogan kampanye yang takut dilupakan. Seakan tanpa pengulangan itu, dunia tidak akan menyadari betapa pentingnya sosok yang sedang berbicara.

Lalu mengalirlah kisah sukses yang dikemas layaknya dongeng inspirasi. Berawal dari modal puluhan juta rupiah, berkembang menjadi usaha, aset bertambah, kendaraan mewah terbeli. Di ujung cerita selalu ada kalimat yang terdengar akrab: “Ini bukan pamer, ini motivasi.”

Padahal publik sudah cukup dewasa untuk membedakan motivasi dengan glorifikasi diri.

Sebab motivasi tidak membutuhkan angka harga kendaraan. Motivasi tidak perlu menyebut nilai kekayaan. Motivasi tidak lahir dari kebanggaan atas apa yang dimiliki, melainkan dari manfaat yang diberikan kepada orang lain.

Yang lebih menarik, ada upaya yang begitu keras untuk meyakinkan orang bahwa dirinya bukan pejabat karbitan.

Padahal sejarah menunjukkan, mereka yang benar-benar berkualitas jarang sibuk membuktikan kualitasnya sendiri. Emas tidak perlu berteriak bahwa dirinya emas. Hanya barang tiruan yang biasanya membutuhkan banyak promosi.

Ironisnya, gaya seperti ini justru bertolak belakang dengan semangat birokrasi modern yang menuntut kerendahan hati, profesionalisme, akuntabilitas, dan pelayanan publik.

Seorang birokrat dinilai bukan dari seberapa banyak usaha yang dimilikinya, bukan dari harga mobil yang dikendarainya, dan bukan pula dari berapa kali ia menyebut dirinya CEO. Yang dinilai adalah kualitas pelayanan, integritas, dan dampak kerjanya bagi masyarakat.

Publik akhirnya dibuat bertanya-tanya. Mengapa jabatan harus disebut terus-menerus? Mengapa status CEO harus diulang berkali-kali? Mengapa kekayaan harus menjadi bagian dari pidato? Dan mengapa pencitraan terasa lebih dominan daripada substansi?

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak hidup dari cerita tentang mobil miliaran. Masyarakat tidak terbantu oleh daftar aset. Masyarakat tidak mendapatkan pelayanan yang lebih baik hanya karena seseorang berkali-kali menyebut dirinya CEO.

Yang dibutuhkan publik adalah kerja nyata, bukan narasi kehebatan diri yang diputar berulang-ulang.

Sebab semakin sering seseorang mempromosikan dirinya sendiri, semakin besar kesan bahwa penghargaan dari orang lain ternyata belum cukup datang dengan sendirinya.

Dan ketika gelar, jabatan, serta kekayaan menjadi topik utama dalam setiap kesempatan, publik berhak curiga bahwa yang sedang diperjuangkan bukan lagi pelayanan atau pengabdian, melainkan kebutuhan untuk terus dipuji.

Dalam birokrasi, penghormatan tidak lahir dari jabatan yang diumumkan berulang kali. Penghormatan lahir dari kepercayaan publik yang dibangun melalui kerja, keteladanan, dan integritas.

Karena orang besar biasanya dikenal dari karyanya. Bukan dari seberapa sering ia menyebut dirinya besar. (*)